Minggu, 04 November 2012

Sepenggal Asa

Sepenggal Asa

Malam ini aku sedang mengaduh kembali
mengadu tentang Asa dan anganku pada-Mu
Sungguh tiada terkira,
jika inginku engkau dengar
jika resahku engkau perdulikan

Wahai Engkau Sang Penguasa Hati
berikan hati ini ketenangan
meski jauh dimata
namun segala karunia-Mu sungguh terasa

Wahai Sang Pencipta segala rasa
Engkau Jauh lebih tahu
karena Engkaulag Yang Maha Tahu
berikan kekuatan dalam hati ini

untuk melangkah,
untuk berlari,
mengejar segala mimpi


BPI, i 15

Sabtu, 20 Oktober 2012

Somebody Is Me



Somebody is me
Semilir angin disiang hari terasa sangat menyejukkan, dengan lembut menerpa jilbab Rara yang sedang asyik duduk santai dibawah Pohon Beringin bersama dengan teman-temannya. Pohon itu bak tempat persinggahan bagi mahasiswa, batang pohonnya yang kokoh dan menjulang tinggi, daunnya yang hijau lebat mampu mengayomi hampir sebagian besar halaman fakultas mereka. Seringkali mahasiswa menggunakannya untuk tempat beristirahat sejenak sambil menunggu dosen, tempat diskusi, ataupun sekedar kongkow bersama. Tidak berlebihan jika tempat ini dinamakan “Ringin Center”.
Siang itu Rara yang sibuk mempersiapkan presentasi mata kuliah Tasawuf, tiba-tiba saja terdengar getar handphone dari sakunya. “dari Arya”, kata Rara dalam hati sambil tersenyum simpul.
Rani, Minggu ini aku ikut lomba debat bahasa inggris Se-Jateng di IKIP. mohon do’nya. Semoga aku bisa memberikan yang terbaik.
Tanpa ragupun Rara segera membalasnya dengan senang hati.
Iya, Arya. Just doing the best! I proud of U
Rarapun melanjutkan aktivitasnya. sedang ia masih menunggu balasan SMS dari Arya.
***
Belum lama ini persahabatan mereka semakin dekat dan sangat akrab, hingga tidak segan-segan mereka sering sharing berbagai hal, baik masalah pribadi maupun mata kuliah masing-masing, bahkan masalah organisasi. Mereka sering bertemu dalam komunitas yang sama, kecenderungan mereka pun hampir sama. Hanya saja mereka berbeda fakultas.
Awalnya mereka bertemu di perpustakaan, ketika itu Rara ingin mengambil sebuah buku dideretan Rak yang paling atas.  Tiba-tiba kartu perpusnya terjatuh, dan dengan tidak sengaja terinjak oleh seorang pemuda. Agaknya lebih senior dari pada Rara.
Gadis yang bernama lengkap Rara Maharani itu sering sekali mengunjungi perpustakaan. Kesibukannya di organisasi ekstra kampus mendorongnya untuk membaca lebih banyak tentang buku-buku perjuangan. Seperti karangan-karangan pemikiran Cak Nur. Selain itu, ia juga gemar dengan bahasa inggris, mendorongnya untuk bergabung di salah satu UKMI bahasa. Dari kedua kegemarannya ini secara tidak sengaja mempertemukan mereka.
“Maaf mbak, kartunya terinjak”, kata pemuda itu.
“tidak apa-apa, Mas”, balas Rara agak pelan.
 Pemuda itupun mengulurkan kartu milik Rara, kemudian pegi ke deretan Rak buku yang ada disampingnya. Tanpa disadari Pemuda itu memperhatikan Rara saat mencoba meraih buku yang ada di tempat paling atas. Tanpa basa-basi pemuda itu mengambilnya dan memberikannya kepada Rara.
“Suka baca pemikiran Cak Nur ya mbak”, pemuda itu seolah membaca pikiran Rara,
“saya juga salah satu Penggemar karya-karya beliau”, imbuh pemuda tersebut.
 Kemudian mereka saling memperkenalkan diri. Dan obrolan itu mengalir begitu saja. Mereka saling terbuka berbagai pengalaman.
“Nama saya Arya Hasan, teman-teman saya biasa memanggil hasan”.
“saya Rara Maharani”.
Setelah mengobrol cukup lama, mereka sepakat kalau masing-masing dari mereka tidak akan  memanggil nama masing-masing sebagaimana teman-teman yang lainnya.
“kalo gitu, saya panggil kamu Rani”
“baiklah Arya”
***                 
Beberapa detik kemudian Hp Rara bergetar kembali, Dengan sigap ia meraihnya dan tak sabar ingin melihat jawaban dari Arya. Tetapi Rara Nampak sedikit kecewa. “dari Ilyas”, kata Rara Pelan, karena ia berharap yang membalas SMS nya adalah Arya, Bukan Ilyas.
Ilyas juga salah satu teman Rara disalah satu Unit Kegiatan Mahasiswa intra kampus, EFC (English Fans Club), sama seperti Arya. Tapi Arya masuk menjadi anggota lebih dulu dari pada mereka berdua. Sekarang Arya telah menjadi salah satu Pengurus Harian. Sedangkan Rara dan Ilyas statusnya masih menjadi Anggota Aktif. Meskipun Rara dan Ilyas berada di fakultas yang sama, tetapi mereka jarang bertemu, apalagi mengobrol seperti teman-teman yang lain. Mereka hanya bertemu ketika EFC mengadakan diskusi harian.
In one time, lambat laun pertemanan mereka bertiga semakin akrab. Mereka kompak dalam berbahasa ataupun berdiskusi dengan teman-teman EFC yang lain.
                                                                        ***
Segeralah ia membaca SMS tersebut, Seraya melihat ilyas yang sedang duduk beberapa meter dari tempat Rara. Awalnya ia bingung dengan pesan yang diterimanya.
Rara, bisa bicara sebentar?
Bunyi SMS ilyas yang tidak seperti biasanya, namun tanpa pikir panjang Rarapun membalas SMS dari Ilyas.
“oh, iya. Tentu”
“aku tunggu didepan kantor dekanat, sekarang”.
“ok!”
Namun, Rara merasa ada sedikit keganjalan yang ia tangkap, ia mengira bahwa ilyas sedang mengalami masalah besar. Sehingga perlu di selesaikan. Dalam waktu dekat ini mereka sedang memiliki agenda workshop yang diadakan oleh EFC. Dan kebetulan Arya menjadi Ketua Panitia nya. Dan ilyas sebagai koordinator Acara tersebut.
 “Mungkin ada pesan untuk Arya berkaitan dengan workshop ”, pikir Rara.
Dalam pertanyaan hati yang tak terjawabpun, Rara menemui ilyas. Dari kejauhan ilyas nampak bahagia, walaupun sedikit gugup. Ada sesuatu yang tersembunyi, namun Rara tak bisa menebaknya.
“Hi, Ilyas”, sapa Rara
(hanya membalas senyum), belum ilyas menjawab, Rara pun menambahi
“tumben, kenapa gak pake SMS aja? Apa ada masalah dengan persiapan workshop EFC?”
“Ra, ada yang ingin aku omongin kepadamu”
(diam sejenak)
“Ra, aku ingin nembak kamu”, kata ilyas dengan nada agak takut.
“apa? Aku gak salah denger?”
“sebenarnya sudah lama aku ingin mengungkapkan nya. Tapi aku rasa inilah waktu yang tepat”.
“Ilyas, apa kamu sadar dengan yang kamu katakan?”
“iya Ra.”
“trus, apa alasannya?”
“Because I love you”
(tersenyum pahit), suasanapun sempat menegang.
“Ilyas, aku benar-benar gak pernah membayangkan ini sebelumnya”.
(berhenti sejenak)
“Ma’af Ra, aku harus katakana ini. Lalu apa jawaban kamu, Ra?” desak ilyas.
“Ilyas, aku mohon kamu bisa menerima apa yang menjadi jawabanku”, pinta Rara dengan rasa sungkan.
“Apapun itu ra, yang penting aku tahu jawabanya. Jadi gimana?”
“Ilyas, sebelumnya aku berterimakasih atas ungkapan dari perasaanmu, dan keberanianmu untuk mengatakan ini semua. Tapi, untuk saat ini, aku tidak sedang ingin menerima siapapun. Maaf, aku harus focus dengan kuliahku”.
(berpikir sejenak)
“Jadi, aku masih punya kesempatan kan?”
“tidak ada jawaban yang pasti, tolong hargai keputusanku. Aku tidak ingin berorientasi dengan hal seperti ini”.
“tapi aku akan tetap menunggu, hingga ada kepastian. Selama harapan itu masih ada”
“ilyas, aku mohon, jangan membuat pernyataan yang akan menjadi beban di pikiranku”.
“Rara, aku minta ma’af. Aku tidak bermaksud membebani pikiranmu. Aku Cuma berharap”.
(rara hanya terdiam)
“Baiklah, jangan khawatir. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku. Aku harap setelah kejadian ini, tidak akan merubah pertemanan kita yang telah lama terjalin. Anggap saja, aku tidak pernah mengatakan apapun”. (jelas ilyas).
(tersenyum) “saya harap begitu”.
***
Satu minggu telah berlalu, mereka pun disibukkan dengan persiapan Workshop EFC. Rara tidak ingin ambil pusing dengan kejadian waktu itu. Begitupun dengan ilyas. Namun, tidak dapat dipungkiri, lambat laun Rara pun kepikiran tentang kejadian tersebut. Perasaan Marah, heran, galau, semuanya menjadi satu, tidak pernah diinginkannya hal tersebut bisa terjadi. Karna Rara sudah menganggap Ilyas hanya sebagai sahabat, tidak lebih. Akan tetapi semua tidak bisa dicegah. Begitulah cinta, ia datang tidak mengenal waktu, tidak memandang bulu.
Meskipun mereka mencoba bersikap biasa, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Disela-sela kesibukan mereka memang sangat terlihat seperti biasa. Tetapi Ilyas masih sering mengirim SMS yang membuat Rara merasa terbebani.
If you’re not the one then why does my soul feel glad today, I never know what the future brings, but I know that this much is true. And I’m praying you are the one in my life.
Sedangkan disaat seperti ini, Rara ingin bercerita kepada Arya, tetapi ia urungkan niatnya karena tahu pasti dia sibuk mempersiapkan Lomba Debat dan Workshop EFC. Rara sedikit menyesal, karena alasan yang diberikan tidak lantas membuat Ilyas menjauhinya. Kecemasannya membuat dia berimajinasi ‘ia berharap andaikan yang mengatakannya adalah Arya, bukan Ilyas. Tapi perasaan itu langsung dibuang jauh-jauh. Justru ia akan semakin bingung, jika yang mengatakan nya adalah Arya. Diam-diam Rara menyimpan rasa cinta kepada Arya, meskipun sering ia menepisnya. tetapi dia juga tidak ingin hal itu terjadi. Baginya Cinta memang bisa membahagiakan ketika ia datang tepat pada waktunya, bukan saat ia sedang harus focus kuliah. Pada saat ini dia benar-benar tidak ingin berurusan dengan cinta.
***
Akhirnya hari H untuk kegiatan Workshop pun tiba, akan tetapi Rara tidak berani menanyakan hasil Lomba kepada Arya. “nanti dia akan bercerita Sendiri”, pikirnya. Arya terlihat sangat Sibuk mempersiapkan acara Workshop ini.
“Baiklah teman-teman, saya harap kerja sama dan profesionalitas kalian untuk mensukseskan acara ini, karena acara ini milik kita bersama. Baik buruk nya acara ini akan berdampak pada EFC kedepannya”, Arya memberikan kata pengantar sebelum acara dimulai. Kemudian masing-masing koordinator acara diminta untuk mengecek ulang semuanya. Memastikan semua akan berjalan sesuai tujuan bersama.
“Tenang San, semua telah siap. Hanya saja untuk pemain performance art nya masih dalam perjalanan. Sebentar lagi akan sampai”, lapor Ilyas kepada Arya.
“Baiklah, saya percayakan semuanya pada teman-teman”, jawab Arya.
Lima belas menit kemudian acara pun dimulai, namun Rara agak khawatir untuk pemeran performance art nya belum juga datang. Hingga Rarapun mendapat SMS dari slah satu temannya bahwa kemungkinan mereka tidak dapat datang, karena ada kerusakan motor yang membutuhkan waktu lama. Perlu perbaikan kurang lebih satu jam.
Rarapun segera melaporkan kejadian tersebut kepada Ilyas selaku koordinator acara. “Performance art 20 menit lagi harus dimulai”, ungkap Ilyas. Ilyas pun tidak kehilangan akal. Kemudian dia mendiskusikan hal ini kepada Arya. Entah apa rencana Ilyas, namun Arya Nampak setuju saja dengan idenya.
“Baiklah Ilyas, persiapkan saja semuanya”, kata Arya.
***
Waktu untuk performance pun tiba. Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan Arya dan Ilyas untuk mengisi Performance itu. Tapi Arya malah menuju ke stage dengan membawa segala peralatan yang telah dipersiapkan Ilyas. Rara Ingin keluar dari Ruangan, tiba-tiba Ilyas memberi Isyarat jangan, “Listen Please, Ra!”
“Ok guys, I’ll sing to you. My friend ask me to sing this song, He said that this song special to someone, listen Please!”
Sejurus dengan itu, Rara sangat Penasaran dengan yang dikatakan Arya. Tiba-tiba Ilyas mengirim SMS kepada Rara
Lagu Ini request khusus buat kamu, Ra.
Ku hanya ingin kau tahu, bahwa orang yang memiliki rasa semua itu adalah aku. Dan seseorang yang tak bisa merasa sakit karena luka cinta yang telah ditolak, Somebody is Me.
Namun Rara hanya terdiam terhanyut dalam lagu yang dinyanyikan Arya. Air matanya pun tak tertahankan. Namun sebisa mungkin ia menutupinya dari teman-temannya.
“Asal kamu tahu Arya, orang yang dimaksud Ilyas adalah aku. Dan jika kamu tahu lagu itu juga mewakili perasaanku kepadamu. Orang yang membutuhkanmu, seseorang yang mencintaimu, somebody’s Me”. Namun Rara hanya bisa mengatakan itu semua didalam Hatinya.
Semarang, 05 Oktober 2011

When I Beside you



When I beside u
Aku tak perlu berlaku
Menjadi diriku yang lain
Cukup didekatmu
Aku merasakan nyaman
Cukup mendengarmu
Aku merasa tenang
Denganmu,
Aku yakin, aku bisa
Meraih segala mimpiku

31 Juli 2012

Sabtu, 14 April 2012

Berhenti mengharapmu


Telah ku bisikkan
Cerita-cerita tentangmu
Telah kunyanyikan
Lagu-lagu cintamu

Tlah ku abaikan
Semua kisahku untukmu
Meski slalu bertanya
Apakah kau masih inginkanku

Telah kuhancurkan semua resah tentangmu
Telah kululuhkan semua keinginanku
Untuk mencintaimu...
Meski ku tak lagi bisa menyentuh hatimu...

Kamis, 12 April 2012

PENGUAT HATI


Ketika aku sendiri, ku menghibur diri
meski hati tak bisa dibohongi

ketika aku sedih, ku menyanyi lagu darimu
meski dengan suara sumbang

ketika aku butuh spirit dan motivasi
aku bangun dan berdiri sendiri
meski itu aku tertatih-tatih

menguatkan hati sendiri,
dengan menulis dan bercerita


menghibur diri sendiri,
menghadapi polemik inipun sendiri,

aku berkisah dalam hati
untuk menjadi penguat hatiku sendiri

Ya Muqollibal Quluub,,
Tsabbit Qalbi 'ala diinik

Top of Form
Bottom of Form